Cara Uji Paired Sample T-Test dan Interpretasi dengan SPSS

Bismillahirrahmanirrahiim

Pada kesempatan kali ini akan ditunjukkan dan dijelaskan bagaimana cara melakukan uji paired sample t-test dengan interpretasinya menggunakan software SPSS 24. Sebelumnya akan dijelaskan apa itu Uji Paired Sample T-Test.

Uji paired sample t-test merupakan bagian dari uji hipotesis komparatif atau uji perbandingan. Data yang digunakan dalam uji paired sample t-test umumnya berupa data berskala interval atau rasio. Uji paired sample t-test merupakan bagian dari analisis statistic parametric. Oleh karena itu, syarat utama dilakukannya pengujian tersebut ialah data penelitian haruslah berdistribusi normal. Untuk mengetahui apakah data penelitian yang digunakan berdistribusi normal atau tidak maka perlu dilakukan uji normalitas. Uji paired sample t-test bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan rata-rata dua sampel atau dua kelompok yang saling berpasangan atau berhubungan.

Untuk lebih memahami tentang apa yang dimaksud dengan sampel berpasangan dalam uji paired sampel t-test ini, perhatikan contoh kasus berikut ini

Contoh kasus :

Petani didesa melakukan uji coba ramuan pupuk lokal terhadap tanaman padi. Tujuan utama petani untuk mengetahui keefektifan pupuk lokal tersebut terhadap peningkatan hasil tanaman padi. Data yang dikumpulkan jumlah hasil panen padi sebelum diberikan ramuan pupuk lokal dan jumlah hasil panen padi setelah diberikan ramuan pupuk lokal. Data hasil panen sebagai berikut (dalam satuan Kg):
Sebelum kita masuk pada langkah-langkah uji paired sampel t-test, terlebih dahulu kita harus mengetahui apakah data sebelum dan setelah pemberian ramuan pupuk lokal terhadap tanaman padi tersebut berdistribusi normal atau tidak.

Berikut tabel hasil uji normalitas dengan SPSS :

Berdasarkan tabel output “Tests of Normality” pada bagian uji Shapiro-Wilk, terlihat nilai Sig untuk nilai sebelum diberikan ramuan pupuk lokal sebesar 0.977, dan nilai setelah diberikan ramuan pupuk lokal sebesar 0.162. Karena nilai tersebut lebih besar dari 0.05 maka disimpulkan bahwa data nilai sebelum dan setelah berdistribusi normal. Dengan demikian dapat dilanjutkan dengan uji paired sampel t-test.

Langlah-langkah Uji Paired Sampel T-Test dengan SPSS

Adapun langkah-langkah melakukan uji paired sampel t-test sebagai berikut :

  1. Buka lembar kerja SPSS, kemudian klik variabel new
  2. Jika sudah maka akan tampil lembar kerja seperti pada gambar berikut. Selanjutnya pada bagian name ketikkan sebelum dan setelah. Pada bagian decimals ubah menjadi 0 karena jumlah hasil tanaman padi sebelum dan setelah diberikan ramuan pupuk lokal dalam bentuk angka bulat, bukan dalam pecahan decimal. Pada bagian label ketikkan sebelum dan setelah. Pada bagian measure pilih Scale. Sementara untuk kolom yang lainnya biarkan otomatis SPSS saja, tidak perlu diubah.
  3. Selanjutnya klik Data View atau tekan tombol CTRL + T pada keyboard laptop
  4. Jika sudah maka akan tampil lembar kerja seperti pada gambar berikut. Berikutnya kita masuk pada tahap pengisian atau input data ke SPSS, yaitu dengan cara menulis jumlah hasil tanaman padi sebelum dan setelah diberikan ramuan pupuk lokal yang sudah terkumpul ke kolom sebelum dan setelah. Atau dengan cara copy paste jika data sudah disusun di excel.
  5. Langkah berikutnya, dari menu bar yang terdapat pada SPSS klik menu Analyze, lalu pilih Compare Means, kemudian klik Paired Samples T Test
  6. Selanjutnya akan muncul kotak dialog dengan nama “Paired-Samples T Test”. Karena kita akan menguji perbandingan antara hasil tanaman padi sebelum dan setelah diberikannya ramuan pupuk lokal, maka klik mouse pada data sebelum kemudian klik tombol yang tersedia untuk memasukkan data sebelum ke kotak sebelah kanan (Paired Variables:), setelah data sebelum masuk, lakukan cara yang sama pada data setelah. Perhatikan gambar berikut untuk lebih jelasnya.Gambar sebelum data Sebelum dan Setelah tanaman padi diberikan ramuan pupuk lokal dimasukkan ke kotak Paired Variables:

    Gambar setelah data Sebelum dan Setelah tanaman padi diberikan ramuan pupuk lokal dimasukkan ke kotak Paired Variables :

  7. Pada gambar sebelumnya klik Options maka akan muncul kotak dialog “Paired-Samples T Test: Options”. Pada Confidence Interval Percentage tulis 95 artinya kita menggunakan tingkat kepercayaan 95% atau signifikansi 5% atau 0.05, lalu klik Continue. Berikut gambarnya
  8. Setelah semua langkah-langkah uji paired sample t test dengan SPSS sudah dilakukan dengan baik. Langkah terakhir adalah klik Ok. Maka akan muncul Output SPSS berjudul “T-Test” yang selanjutnya akan kita tafsirkan maknanya atau dinnterpretasikan.

Interpretasi hasil Uji Paired Sample T-Test dengan SPSS

  • Interpretasi Tabel Output “Paired Samples Statictics”

Tabel statistics ini menjelaskan analisis deskriptif dari data yang diolah. Ada 4 kolom yang dapat dijelaskan pada tabel statistic, yaitu :

  1. Mean adalah nilai rata-rata dari masing-masing variabel. Dari data ini terlihat bahwa jumlah hasil tanaman padi sebelum diberikan ramuan pupuk lokal memiliki rata-rata lebih kecil dari jumlah hasil tanaman padi setelah diberikan ramuan pupuk lokal yaitu . Sehingga, secara deskriptif terdapat perbedaan hasil tanaman padi sebelum dan sesudah diberikan ramuan pupuk lokal.
  2. N adalah jumlah (banyak) data pada masing-masing variabel. Pada tabel terlihat bahwa pada variabel sebelum terdapat 15 data, begitupun pada variabel setelah terdapat 15 data
  3. Deviationadalah nilai sebaran data pada masing-masing variabel. Dalam saham, Std Deviation digunakan untuk mengukur tingkat risiko. Semakin besar nilainya, maka semakin beresiko.
  4. Std Error Meanberguna untuk mengetahui seberapa baik rata-rata data dari data sampel tiap variabel dapat mengestimasi rata-rata populasi. Selama data yang diolah berdistribusi normal (lolos uji normalitas), maka Std Error Mean tidak perlu dimasukkan ke Pembahasan Penelitian.
  • Interpretasi Tabel Output “Paired Samples Correlations”

Tabel Correlation ini menjelaskan korelasi atau hubungan antara kedua data (sebelum pemberian pupuk lokal dengan setelah pemberian pupuk lokal). Perhatikan kolom sig pada tabel correlation. Jika Nilai Sig. > alpha 5% (0,05), maka dapat disimpulkan bahwa kedua data (variabel) tidak berkorelasi.

Dalam data yang diolah, terlihat bahwa nilai sig < alpha (0,002 < 0,05, artinya kedua data (variabel) tersebut berkorelasi atau berhubungan.

  • Interpretasi Tabel Output “Paired Samples Test”

Output ketiga ini adalah output yang terpenting, karena pada bagian inilah kita akan menemukan jawaban atas apa yang menjadi pertanyaan dalam contoh kasus di atas, yakni mengenai ada atau tidaknya pengaruh sebelum dan setelah diberikannya ramuan pupuk lokal pada tanaman padi terhadap hasil panen. Namun, sebelum kita menginterpretasikan tabel correlations tersebut, terlebih dahulu kita perlu mengetahui rumusan hipotesis penelitian dan pedoman pengambilan keputusan dalam uji paired sample t test

Rumusan Hipotesis Penelitian

H0 : Tidak terdapat perbedaan hasil tanaman padi sebelum dan sesudah diberikan ramuan pupuk lokal

Ha : Terdapat perbedaan hasil tanaman padi sebelum dan sesudah diberikan ramuan pupuk lokal

 

Dasar Pengambilan keputusan Paired Sample T-Test (Singgih Santoso, 2014:265):

  • Jika nilai Sig. (2-tailed) <Alpha Penelitian (0,05), maka H0 ditolak dan Ha
  • Jika nilai Sig. (2-tailed) >Alpha Penelitian (0,05), maka H0 diterima dan Ha

Berdasarkan kolom terakhir tabel Paired Sample Test yaitu kolom Sig. (2-tailed) terlihat bahwa Sig. (2-tailed) < alpha (0,000 < 0,05). Jadi dapat diambil keputusan H0 ditolak dan Ha diterima. Dengan kata lain, terdapat perbedaan signifikan hasil tanaman padi sebelum dan sesudah diberikan ramuan pupuk lokal.

 

Sekian dan Terima Kasih

Semoga bermanfaat dan selamat mencoba….!

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.