Seri 9 Belajar LibreOffice: Testimoni “KOMENTATOR” Terhadap LibreOffice

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Sebelum membaca tulisan ini, kata “… bajakan” diganti dengan “… yang sudah di crack” supaya kesannya pengguna software tidak dikriminalkan. Oke, kita masuk pada inti tulisan ini. Perbandingan yang dilakukan beberapa “KOMENTATOR” terhadap LibreOffice dengan Microsoft Office (MSO) yang sangat tidak masuk akal. Coba simak tulisan berikut ini[1] :

  1. LibreOffice itu murahan.
    Komentar ini tidak adil karena si pembanding sendiri jika ia menggunakan MSO (mahal) yang sudah di crack (murah). Hasil cracking itu MURAHAN.
  2. LibreOffice itu rendahan.
    Komentar ini tidak adik karena si pembanding sendiri menggunakan MSO (terhormat) yang sudah di crack (MURAHAN).
  3. LibreOffice itu jelek (fiturnya kalah, tampilannya kalah).
    Komentar ini tidak adil karena si pembanding sendiri menggunakan MSO 2007/2010/2013/2016/365/2019 (fitur bagus, tampilan bagus) yang sudah di crack (JELEK).
  4. LibreOffice itu tidak berguna (dituduh sulit digunakan).
    Komentar ini tidak adil karena si pembanding menghabiskan waktu dan/ atau biaya yang besar untuk mempelajari MSO baru kemudian menyatakan MSO mudah dan berguna, sedangkan si pembanding tidak memperlakukan LibreOffice seperti diatas tetapi menuduh LibreOffice sulit dan tidak berguna.
  5. LibreOffice tidak kompatibel.
    Komentar ini tidak adil, karena si pembanding tidak mau menghargai kerja keras dari pengembang LibreOffice, sedangkan ketika dia memakai MSO 2007/2010/2013/2016/365/2019 dia tidak membayar lisensi MSO. Anehnya, si pembanding juga tidak membandingkan harga lisensi software antara LibreOffice dengan MSO. Selain itu, si pembanding tidak mau menggunakan format dokumen yang free yaitu Open Document Format (ODF), sementara dia sendiri terus menerus mengkampanyekan format dokumen yang nonfree yaitu OOXML (DOC/XLS/PPT) sadar atau tidak sadar. Yang paling parah, si pembanding tidak punya kesadaran/ mungkin sudah sadar tapi pura-pura tidak sadar untuk meninggalkan “software yang sudah di crack” kemudian memiliki usaha untuk menggunakan software dan format dokumen alternatif. Kalau dia niat betul meninggalkan “yang sudah di crack“, tidak ada alasan untuk tidak bisa karena dia hidup sudah di zaman teknologi informasi yang memasuki era industri 4.0.
  6. LibreOffice itu jelek (dari segi tampilan).
    Komentar ini tidak adil karena si pembanding tidak mengetahui pertimbangan developer UI LibreOffice yang berusaha memberikan yang terbaik sesuai kemampuan mereka untuk pengguna LibreOffice. Kalau diubah, pengguna yang sudah ada akan kebingungan (sedangkan pengguna yang baru tidak pasti datangnya) serta seluruh tutorial yang ada akan hangus karena perubahan.
  7. LibreOffice miskin (dari segi tutorial).
    Komentar ini tidak adil karena si pembanding belum banyak membaca dan melihat dokumentasi resmi dari LibreOffice atau tidak pernah menekan tombol F1 pada LibreOffice. Selain itu, sudah ada panduan LibreOffice yang FREE yang sudah disediakan oleh Komunitas LibreOffice Indonesia.

Oleh karena itu, saran penulis, jika ingin BERKOMENTAR tentang LibreOffice, hendaknya adil saat membandingkan. Berikan kedudukan yang layak antara software legal di atas software yang sudah di crack. Sosialisasikan juga format ODF secara sukarela melebihi OOXML. Karena ODF itu sarana agar pengguna MSO bisa beralih dari yang ilegal ke yang legal. Jika seseorang sudah mampu konsisten atau masih menggunakan software yang sudah di crack, hendaknya bandingkan free software dengan nonfree software ataukah free software dengan “software yang sudah di crack” dengan adil dan masuk akal.

Mungkin itu saja tulisan kali ini, semoga bermanfa’at untuk penulis dan pembaca sekalian. Kalau ada yang benar itu datangnya dari Allah subhanahu wa ta’aalaa, dan yang salah itu dari kecerobohan dan kekeliruan penulis yang masih belajar ini. Jangan lupa komentar dan kritik serta masukan dari pembaca dih di kolom komentar dibawah.

Syukron Jazaakumullaahu Khairan wa Baarakallaahu Fiikum.
Allahu a’lam.

Rujukan:
[1] https://restava.wordpress.com/2015/12/02/perbandingan-yang-tidak-adil/ oleh Ade Malsasa Akbar

Artikel Terkait

Satu komentar pada “Seri 9 Belajar LibreOffice: Testimoni “KOMENTATOR” Terhadap LibreOffice

  1. Alhamdulillah saya sudah mulai mengurangi penggunaan yang bajakan diganti ke beli, meskipun menghabiskan gaji sebulan hanya untuk 1 software 🥺

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.