Seri 3 Belajar LibreOffice: Memang Beda

Bismillahirrohmaanirrohiim.

Penulis kembali mengingatkan bahwa ada kaidah umum tentang software yang Anda harus ketahui dan pahami, yaitu:

“Mayoritas software di dunia ini adalah tidak bebas (nonfree) dan Mayoritas orang mengira semua software itu bebas (free)”.[1]

Salah satu free software untuk Office adalah LibreOffice. Salah satu nonfree software untuk Office adalah Microsoft Office (MSO). Satunya menunaikan hak-hak pengguna software, yang satunya memboikot hak-hak pengguna software. Satunya membuat penggunanya bebas untuk mempelajari, menggunakan, memodifikasi, membagikan dan memperjualbelikan jasa instalnya kepada teman dekat dan orang sekitarnya, yang satunya melarang penggunanya untuk mempelajari, menggunakan, memodifikasi, membagikan dan memperjualbelikan jasa instalnya karena diikat oleh aturan lisensi yang justru memberatkan penggunanya. Memang beda.

LibreOffice, selain sederhana, tampilannya menarik, juga mengajarkan penggunanya untuk aktif mengasah algoritma mereka saat ingin memasukkan Formula maupun Symbol. Sedangkan MSO, memang elegan, tampilannya menarik, menyediakan penggunanya Equation dan Symbol yang otomatis, tinggal di klik Equation-nya. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Memang beda.

LibreOffice, tidak memungut biaya penggunanya untuk menggunakannya secara full version. Sedangkan MSO memaksa penggunanya membeli lisensi MSO agar bisa menggunakannya secara full version, jika tidak, hanya diberikan kesempatan 5 hari masa percobaan. Hal ini membuat banyak pihak yang ahli dalam meretas MSO dengan membuat tools seperti KMS Pico, KMS Auto, dan tools lainnya untuk mengaktivasi MSO agar bisa digunakan selama periode tertentu. Memang beda.

MSO, membuat penggunanya harus menggunakan format dokumen nonfree, yaitu DOCX, XLSX, dan PPTX. Sedangkan LibreOffice, membuat penggunanya menggunakan format dokumen yang free, yaitu ODT, ODS, dan ODP. Sehingga, format dokumen MSO termasuk format dokumen yang antisosial sebab mengunci orang sehingga gagal beralih ke GNU/Linux dan Free Software[2]. Memang beda.

Mungkin itu saja tulisan kali ini, semoga bermanfa’at untuk penulis dan pembaca sekalian. Kalau ada yang benar itu datangnya dari Allah subhanahu wa ta’aalaa, dan yang salah itu dari kecerobohan dan kebodohan penulis yang masih belajar ini. Jangan lupa komentar dan kritik serta masukan dari pembaca dih di kolom komentar dibawah.

Syukron Jazaakumullaahu Khairan.

Rujukan:
[1] https://restava.wordpress.com/2018/10/10/membedakan-free-software-dari-nonfree-software/ oleh Ade Malsasa Akbar
[2] https://restava.wordpress.com/2018/11/10/format-dokumen-antisosial/ oleh Ade Malsasa Akbar

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.